image-slider

Supporting champions of the new economy

More About Our Portfolio
August 28 2018

Aplikasi Yuna Resmi Meluncur sebagai Asisten Virtual Kebutuhan Fesyen

Besarnya minat kalangan perempuan di Indonesia mengonsumsi produk fesyen dan kecantikan membuat banyak layanan startup lokal hingga asing melirik peluang tersebut. Salah satu startup lokal yang baru meluncur memanfaatkan peluang tersebut adalah Yuna. Yakni dengan menghadirkan aplikasi mobile yang didukung teknologi Artificial Intelligence. Dalam acara temu media hari ini (13/12), CEO Yuna & Co Winzendy Tedja mengungkapkan, bahwa ide dibuatnya aplikasi fesyen yang berfungsi seperti “matchmaker” ini berawal dari pengalaman pribadinya melihat kebiasaan dan tren di kalangan perempuan terkait dengan fesyen. “Untuk bisa membuat style lebih personal saya pun kemudian bersama dengan co-founder lainnya memutuskan untuk membuat aplikasi yang bisa mempertemukan brand dengan pengguna berdasarkan kesukaan dan preferensi.” Aplikasi yang saat ini sudah bisa diunduh di platform Android dan iOS ini menampilkan pilihan gaya sesuai dengan selera dari pengguna. Nantinya berdasarkan gaya personal tersebut, data yang dikumpulkan oleh Yuna akan mencocokkan pengguna dengan produk dari sekitar 40 brand yang saat ini sudah terdaftar di Yuna. “Secara keseluruhan brand yang bergabung di Yuna adalah brand premium, atau mereka yang memiliki toko di layanan e-commerce hingga toko fisik. Kami sengaja menghadirkan koleksi yang premium menargetkan kalangan perempuan yang membutuhkan asisten pribadi dalam hal menentukan fesyen yang sesuai,” kata Winzendy. Asisten virtual Yuna berbentuk chatbot Berbasis chat message, mulai proses awal pendaftaran, pemilihan gaya yang sesuai, hingga memandu ke brand yang sesuai, chatbot Yuna cukup aktif tampil di aplikasi, membantu pengguna layaknya asisten pribadi yang sesungguhnya. Disinggung tentang perbedaan yang signifikan antara personal assistant Yuna dengan layanan e-commerce, Winzendy menegaskan fitur chatbot Yuna bisa dimanfaatkan brand untuk berkomunikasi secara langsung dengan pengguna atau calon pembeli. “Dengan demikian memungkinkan untuk brand mengetahui dengan langsung keinginan dan selera dari calon pembeli dari aplikasi,” kata Winzendy. Dengan fitur yang tergolong unik, aplikasi fesyen dengan konsep matchmaking ini diklaim merupakan yang pertama di Indonesia. Aplikasi Yuna bisa digunakan secara gratis oleh pengguna. Sementara untuk melancarkan monetisasi, Yuna akan memberlakukan subscription fee untuk brand, yang membutuhkan data serta fitur menarik lainnya dari Yuna. “Berapa komisi yang kami dapatkan dari brand tidak bisa saya ungkapkan, namun kami menjamin brand bisa mendapatkan akses yang akurat seputar consumer behaviour dan fitur menarik lainnya yang bisa membantu mendorong penjualan,” kata Winzendy. Target Yuna tahun 2018 Sejak meluncurkan aplikasi versi iOS bulan Mei 2017, fokus Yuna saat ini masih kepada peningkatan jumlah brand yang bergabung di Yuna. Ditargetkan pada kuartal kedua 2018 mendatang, Yuna bisa mendapatkan sekitar 100 brand lokal dan asing yang terdaftar. Secara keseluruhan hingga kini terdapat 50 ribu SKU dengan 1 juta kombinasi produk di Yuna. “Selain itu kami juga akan menghadirkan fitur-fitur terbaru, melakukan kolaborasi dengan influencer, fashion blogger, brand dan komunitas terkait lainnya untuk memperluas bisnis kami,” tutup Winzendy. Originally published by Yenny Yusra DailySocial.id

August 14 2018

Indonesian B2B e-commerce platform Bizzy acquires Alpha

Indonesian B2B e-commerce and e-procurement platform Bizzy announced that it has acquired B2B online pha for an undisclosed sum, according to a report by DailySocial. The Jakarta-based startup also announced the appointment of Alpha CEO and Founder Andrew Mawikere as its new CEO, with current CEO Peter Goldsworthy being appointed as new President. Interestingly, Mawikere is known as Co-Founder and former CEO of Mbiz, a B2B/G e-commerce and e-procurement platform known as Bizzy’s direct competitor in the sector. In his LinkedIn profile, though there is no entry explaining his new positions at Alpha and Bizzy, it is stated that February 2017 was the last month of his tenure as Mbiz CEO. As for Alpha, the startup focusses on distribution of raw materials, spare parts, and raw materials. Bizzy stated that the acquisition helps the company strengthen its offering in the B2B sector. According to SMDV Managing Partner Roderick Purwana, as an investor to Bizzy alongside Ardent Capital and Maloekoe Venture, an end-to-end B2B e-procurement service that provides direct and indirect materials for businesses will be “the next big thing” in Indonesia’s digital sector, after fintech and e-commerce. In January 2016, Bizzy announced the appointment of senior software developer Norman Sasono as its Chief Innovation Officer. On its launch in July 2015, the startup raised a US$2.5 million funding round led by Ardent Capital. It implements a “crossdocking” system where it integrates multiple shipments from multiple vendors under fulfillment centres operated by e-commerce enabler company aCommerce. Originally published by Anisa Menur A. Maulani in e27.co

August 29 2018

Aino Process 102 M e-Money Transaction for Mass Transport Services

PT Aino Indonesia (Aino), a subsidiary of PT Gamatechno Indonesia, a business unit of PT Gama Multi Usaha Mandiri, fully supports the Bank Indonesia National Movement of Non-Cash (GNNT) by providing customized solutions of electronic money, especially for public transport which suits to the characteristics of electronic money that is intended for micropayment and quick transactions. President Director of PT Aino Indonesia, Hastono Bayu, said by maximizing inter-usability, inter-modality, inter-availability, and the inter-operability of electronic money cards in the city, the use of cash and extortion practices can be minimized. "Currently, AINO is the nation's first and only one system integrator in Indonesia that has integrated 6 electronic money banks in the payment acceptance system (Joint e-Money Reader)," said Hastono, Wednesday (2/11) in the press release. He explained that since 2013, AINO is a financial technology company that builds multi-platform payment acceptance as solutions of integrated Less Cash City. With a portfolio of e-ticketing system of Trans-Jogja bus, Trans-Solo, and Trans-Jakarta, various tourist rides, parking payments of Terminal 3 Ultimate at Soekarno Hatta Airport and the toll road payment in Juanda toll roads and payment solutions for roadside parking at Electronic Parking Terminal Jakarta. "In 2015, Aino has listed 102 million of electronic money transactions, the equivalent of 19% of the national electronic money transactions," he said. To further extend the benefits of the system, Aino gains the trust of investors such as Frontier Capital, IndoGen Ventures, Semeru Venturra Indonesia, and PT Saga Mas. With the motto “Delivering New Hope”, Aino’s solutions are ready to embody the vision of city leader to welcome the advanced, transparent, cashless, and accurate transaction in the urban community. Aino Payment Platform is ready to establish strategic cooperation with publishers of electronic money, service providers, retailers, and users of electronic money in general to realize Less Cash City system. With a national product, Aino seeks to contribute to the people of Indonesia in particular. (UGM / adelily) Originally published by marwati ugm.ac.id

See More
Entrepreneur
Investor
Student
meaningful connections between community members that is inducive to synergies, partnerships, and collaboration.
400 + Community Members