image-slider

Supporting champions of the new economy

More About Our Portfolio
August 06 2018

Coffee Meets Bagel raises $12M

Coffee Meets Bagel scored a $12 million Series B this week. The round, led by U.K. VC firm Atami Capital, brings the popular dating app’s total up to just under $20 million since launching back in 2012. The San Francisco-based dating app has worked to distinguish itself from competitors like Bumble and Tinder by limiting the number of matches it offers during a 24-hour window. Late last year, it expanded its offering with a video feature, to add an extra dimension to profiles. This month, it introduced additional CMB Experiences to bring users together in the real world. Of course, Coffee Meets Bagel is battling a juggernaut in the form of the billion-dollar Match Group, which currently owns OkCupid, Tinder, PlentyofFish and Match, among others. According to the company, this latest round will drive investments into more CMB Experiences along with international expansion for the service, along with other “product innovation.”  Co-CEO Arum Kang also notes that the Series B brings a number of VC firms with “prominent female investors,” including Gingerbread Capital. “We’re excited for the next phase of Coffee Meets Bagel, and are pleased to have some wonderful international and female investors on board,” Kang says in a release tied to the news. “Given our focus on female experience, it was very important that we have a female perspective at the investor level.” Originally published by Brian Heater in techcrunch.com

August 14 2018

Indonesian B2B e-commerce platform Bizzy acquires Alpha

Indonesian B2B e-commerce and e-procurement platform Bizzy announced that it has acquired B2B online pha for an undisclosed sum, according to a report by DailySocial. The Jakarta-based startup also announced the appointment of Alpha CEO and Founder Andrew Mawikere as its new CEO, with current CEO Peter Goldsworthy being appointed as new President. Interestingly, Mawikere is known as Co-Founder and former CEO of Mbiz, a B2B/G e-commerce and e-procurement platform known as Bizzy’s direct competitor in the sector. In his LinkedIn profile, though there is no entry explaining his new positions at Alpha and Bizzy, it is stated that February 2017 was the last month of his tenure as Mbiz CEO. As for Alpha, the startup focusses on distribution of raw materials, spare parts, and raw materials. Bizzy stated that the acquisition helps the company strengthen its offering in the B2B sector. According to SMDV Managing Partner Roderick Purwana, as an investor to Bizzy alongside Ardent Capital and Maloekoe Venture, an end-to-end B2B e-procurement service that provides direct and indirect materials for businesses will be “the next big thing” in Indonesia’s digital sector, after fintech and e-commerce. In January 2016, Bizzy announced the appointment of senior software developer Norman Sasono as its Chief Innovation Officer. On its launch in July 2015, the startup raised a US$2.5 million funding round led by Ardent Capital. It implements a “crossdocking” system where it integrates multiple shipments from multiple vendors under fulfillment centres operated by e-commerce enabler company aCommerce. Originally published by Anisa Menur A. Maulani in e27.co

August 28 2018

Aplikasi Yuna Resmi Meluncur sebagai Asisten Virtual Kebutuhan Fesyen

Besarnya minat kalangan perempuan di Indonesia mengonsumsi produk fesyen dan kecantikan membuat banyak layanan startup lokal hingga asing melirik peluang tersebut. Salah satu startup lokal yang baru meluncur memanfaatkan peluang tersebut adalah Yuna. Yakni dengan menghadirkan aplikasi mobile yang didukung teknologi Artificial Intelligence. Dalam acara temu media hari ini (13/12), CEO Yuna & Co Winzendy Tedja mengungkapkan, bahwa ide dibuatnya aplikasi fesyen yang berfungsi seperti “matchmaker” ini berawal dari pengalaman pribadinya melihat kebiasaan dan tren di kalangan perempuan terkait dengan fesyen. “Untuk bisa membuat style lebih personal saya pun kemudian bersama dengan co-founder lainnya memutuskan untuk membuat aplikasi yang bisa mempertemukan brand dengan pengguna berdasarkan kesukaan dan preferensi.” Aplikasi yang saat ini sudah bisa diunduh di platform Android dan iOS ini menampilkan pilihan gaya sesuai dengan selera dari pengguna. Nantinya berdasarkan gaya personal tersebut, data yang dikumpulkan oleh Yuna akan mencocokkan pengguna dengan produk dari sekitar 40 brand yang saat ini sudah terdaftar di Yuna. “Secara keseluruhan brand yang bergabung di Yuna adalah brand premium, atau mereka yang memiliki toko di layanan e-commerce hingga toko fisik. Kami sengaja menghadirkan koleksi yang premium menargetkan kalangan perempuan yang membutuhkan asisten pribadi dalam hal menentukan fesyen yang sesuai,” kata Winzendy. Asisten virtual Yuna berbentuk chatbot Berbasis chat message, mulai proses awal pendaftaran, pemilihan gaya yang sesuai, hingga memandu ke brand yang sesuai, chatbot Yuna cukup aktif tampil di aplikasi, membantu pengguna layaknya asisten pribadi yang sesungguhnya. Disinggung tentang perbedaan yang signifikan antara personal assistant Yuna dengan layanan e-commerce, Winzendy menegaskan fitur chatbot Yuna bisa dimanfaatkan brand untuk berkomunikasi secara langsung dengan pengguna atau calon pembeli. “Dengan demikian memungkinkan untuk brand mengetahui dengan langsung keinginan dan selera dari calon pembeli dari aplikasi,” kata Winzendy. Dengan fitur yang tergolong unik, aplikasi fesyen dengan konsep matchmaking ini diklaim merupakan yang pertama di Indonesia. Aplikasi Yuna bisa digunakan secara gratis oleh pengguna. Sementara untuk melancarkan monetisasi, Yuna akan memberlakukan subscription fee untuk brand, yang membutuhkan data serta fitur menarik lainnya dari Yuna. “Berapa komisi yang kami dapatkan dari brand tidak bisa saya ungkapkan, namun kami menjamin brand bisa mendapatkan akses yang akurat seputar consumer behaviour dan fitur menarik lainnya yang bisa membantu mendorong penjualan,” kata Winzendy. Target Yuna tahun 2018 Sejak meluncurkan aplikasi versi iOS bulan Mei 2017, fokus Yuna saat ini masih kepada peningkatan jumlah brand yang bergabung di Yuna. Ditargetkan pada kuartal kedua 2018 mendatang, Yuna bisa mendapatkan sekitar 100 brand lokal dan asing yang terdaftar. Secara keseluruhan hingga kini terdapat 50 ribu SKU dengan 1 juta kombinasi produk di Yuna. “Selain itu kami juga akan menghadirkan fitur-fitur terbaru, melakukan kolaborasi dengan influencer, fashion blogger, brand dan komunitas terkait lainnya untuk memperluas bisnis kami,” tutup Winzendy. Originally published by Yenny Yusra DailySocial.id

See More
Entrepreneur
Investor
Student
meaningful connections between community members that is inducive to synergies, partnerships, and collaboration.
400 + Community Members