Making Waves

August 28 2018

Coffee Meets Bagel raises $12M for international expansion and live events

Coffee Meets Bagel scored a $12 million Series B this week. The round, led by U.K. VC firm Atami Capital, brings the popular dating app’s total up to just under $20 million since launching back in 2012. The San Francisco-based dating app has worked to distinguish itself from competitors like Bumble and Tinder by limiting the number of matches it offers during a 24-hour window. Late last year, it expanded its offering with a video feature, to add an extra dimension to profiles. This month, it introduced additional CMB Experiences to bring users together in the real world. Of course, Coffee Meets Bagel is battling a juggernaut in the form of the billion-dollar Match Group, which currently owns OkCupid, Tinder, PlentyofFish and Match, among others. According to the company, this latest round will drive investments into more CMB Experiences along with international expansion for the service, along with other “product innovation.”  Co-CEO Arum Kang also notes that the Series B brings a number of VC firms with “prominent female investors,” including Gingerbread Capital. “We’re excited for the next phase of Coffee Meets Bagel, and are pleased to have some wonderful international and female investors on board,” Kang says in a release tied to the news. “Given our focus on female experience, it was very important that we have a female perspective at the investor level.” Originally published by Brian Heater in techcrunch.com

August 06 2018

Adopsi Model Car-Sharing, HipCar Siap Bantu

Jika biasanya kamu “menumpang” kendaraan milik orang lain dalam layanan transportasi berbasis aplikasi online, seperti Uber, GO-CAR, atau GrabCar, Leo Tanady mencoba menciptakan sesuatu yang berbeda. Ia memiliki ide untuk membuat para pengguna layanan transportasi online bisa berkendara seperti menggunakan mobil sendiri lewat HipCar. Salah satu alasan Leo mencoba model bisnis seperti ini adalah untuk menekan keinginan orang membeli mobil. Harapannya, hal tersebut dapat membantu menekan tingkat kemacetan di Jakarta. “Sekarang orang bawa mobil ke kantor, seharian mobilnya di kantor, tidak dipakai. Setelah itu dia pulang ke rumah, mobilnya menganggur lagi. Kira-kira mobil mereka menganggur selama 160 jam dalam seminggu,” jelas Leo. “Kenapa tidak kita kasih 160 jam ke orang yang benar-benar perlu, jadi dia tidak perlu lagi beli mobil. Less car, less traffic.” Akses mobil dengan smartphone Kamu dapat mengendarai sendiri mobil yang kamu pinjam dengan teknologi yang dikembangkan Hipcar. Kamu tidak perlu bertemu dengan pemilik mobil untuk mengambil kunci. Untuk membuka dan mengunci pintu mobil, bisa dilakukan melalui aplikasi mobile yang tersedia untuk Android dan iOS. Fitur tersebut ditunjukkan dalam demo yang diselenggarakan pada 16 Mei 2017 lalu. Kamu hanya perlu melakukan tap pada tombol Lock atau Unlock dalam aplikasi untuk membuka atau menutup kunci mobil. Aplikasi tersebut terkoneksi dengan perangkat Bluetooth khusus pada mobil yang terdaftar sebagai mitra HipCar. Penggunaan aplikasi sebatas untuk mengunci dan membuka kunci pintu saja. Untuk menjalankan mobil, kamu bisa menggunakan kunci kendaraan yang disediakan di dalamnya. Telah dilengkapi beragam fitur keamanan “Kami memiliki semacam dashboard untuk memantau mobil-mobil HipCar. Kami bisa melihat segala aktivitas mobil, di mana lokasinya, apakah mesinnya menyala atau mati, mobilnya terkunci atau tidak,” jelas Leo. “Jika menemukan aktivitas yang mencurigakan, kami dapat mematikan mobilnya secara remote.” Untuk menambah keamanan, HipCar melakukan proses verifikasi menggunakan KTP dan SIM bagi semua calon pengguna yang ingin menikmati layanan car-sharing ini. Pengembangan diam-diam CEO dan Founder HipCar, Leo Tanady HipCar mulai dikembangkan sekitar tahun 2015. Startup ini juga sempat mengikuti program GnB Accelerator angkatan pertama pada tahun 2016. Namun, aplikasinya sendiri baru diluncurkan secara resmi ke publik pada 16 Mei 2017. Menurut Leo, ia memilih beroperasi di luar radar untuk memastikan bahwa sistem HipCar sudah benar-benar siap digunakan dan minim eror. Leo mengakui, proses pengujian memakan waktu yang cukup banyak untuk memastikan semuanya berfungsi seperti yang diharapkan. “Pengembangan aplikasinya selama enam sampai delapan bulan, lalu beta testing selama satu tahun untuk memastikan keamanan mobil,” ujar Leo yang ikut terlibat langsung dalam proses pengembangan produk dengan dua engineer lainnya. Peluang integrasi Hipcar dengan transportasi umum Leo bercerita, “Dave, salah satu tim saya, tinggalnya di Jatibening. Kalau mau ke kantor, dia naik transportasi umum seperti kereta. Sesampainya di Jakarta, dia perlu pergi meeting ke beberapa tempat, get things done. Tapi bagaimana caranya agar Dave tidak perlu menyetir dari Jatibening sampai Jakarta? “Itu gunanya HipCar. Dave naik kereta saja dari Jatibening. Sampai di Jakarta, dia bisa pakai HipCar untuk berkeliling, setelah selesai kembalikan mobilnya, lalu pulang lagi menggunakan kereta,” pungkasnya. Di Jakarta, banyak orang yang bernasib sama seperti Dave. Leo ingin HipCar nantinya dapat membantu orang seperti Dave, yang bekerja di Jakarta namun setiap hari pulang-pergi ke daerah satelit. Sandiaga Uno dalam acara peluncuran HipCar Menurut Sandiaga Uno yang turut hadir dalam acara peluncuran tersebut, konsep integrasi car-sharing seperti HipCar dengan transportasi umum layak dicoba. “Car-sharing economy menurunkan jumlah mobil secara signifikan di jalan-jalan dan oleh karena itu menurunkan juga kemacetan. HipCar dari presentasinya, meski masih tahap awal, tapi cukup menjanjikan, “Kita harus mulai memikirkan bagaimana caranya mengintegrasikan transportasi online seperti ini dengan transportasi umum. Bagaimana kilometer pertama dan kilometer terakhir dikenakan harga terjangkau, salah satu caranya adalah dengan mengintegrasikan transportasi digital,” ujar Sandiaga. Andalkan transaksi nontunai Pengguna HipCar bisa melakukan pembayaran lewat saldo HipCar atau transfer antarbank. Metode tersebut dipilih Leo karena pengguna HipCar, yang kebanyakan berusia di bawah 28 tahun, tidak memiliki kartu kredit. HipCar tidak melayani transaksi dengan uang tunai. Hal tersebut dilakukan agar proses peminjaman mobil lebih sederhana. Pemilik mobil tidak perlu direpotkan dengan pembayaran dan proses penyewaan yang perlu bertatap muka langsung, dan peminjam pun bisa meminjam mobil dengan lebih nyaman. Menurut Leo, 75 persen pengguna memilih durasi penggunaan selama tiga jam atau lebih. Kini HipCar memiliki tujuh station dan sepuluh unit mobil yang beroperasi kebanyakan di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Mobil yang lolos kriteria adalah yang memiliki kondisi baik dengan usia maksimal delapan tahun. Leo menargetkan sampai akhir tahun ini mereka bisa mengakuisisi hingga 150 mobil. “Kalau mobilnya semakin dekat dengan user, kemungkinan user pakainya pun lebih tinggi. Targetnya, kita mau user bisa tinggal jalan kaki saja untuk ambil mobilnya,” jelas Leo. Di Amerika Serikat, ada ZipCar yang menawarkan layanan serupa. Sebuah survei menunjukkan, keberadaan ZipCar rupanya cukup efektif untuk menurunkan keinginan masyarakat membeli mobil. Dalam studi lainnya, layanan car2go yang mirip ZipCar juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Setiap penggunaan satu unit car2go dapat mengurangi tujuh hingga sebelas kendaraan yang beredar di jalanan. Lalu, apakah HipCar akan dapat memberikan pengaruh serupa di ibu kota? Tentunya diperlukan dukungan dari pemerintah dan pengguna yang bertanggung jawab untuk mewujudkan hal tersebut. Originally published by id.techinasia.com in today.line.me

August 29 2018

Aino Process 102 M e-Money Transaction for Mass Transport Services

PT Aino Indonesia (Aino), a subsidiary of PT Gamatechno Indonesia, a business unit of PT Gama Multi Usaha Mandiri, fully supports the Bank Indonesia National Movement of Non-Cash (GNNT) by providing customized solutions of electronic money, especially for public transport which suits to the characteristics of electronic money that is intended for micropayment and quick transactions. President Director of PT Aino Indonesia, Hastono Bayu, said by maximizing inter-usability, inter-modality, inter-availability, and the inter-operability of electronic money cards in the city, the use of cash and extortion practices can be minimized. "Currently, AINO is the nation's first and only one system integrator in Indonesia that has integrated 6 electronic money banks in the payment acceptance system (Joint e-Money Reader)," said Hastono, Wednesday (2/11) in the press release. He explained that since 2013, AINO is a financial technology company that builds multi-platform payment acceptance as solutions of integrated Less Cash City. With a portfolio of e-ticketing system of Trans-Jogja bus, Trans-Solo, and Trans-Jakarta, various tourist rides, parking payments of Terminal 3 Ultimate at Soekarno Hatta Airport and the toll road payment in Juanda toll roads and payment solutions for roadside parking at Electronic Parking Terminal Jakarta. "In 2015, Aino has listed 102 million of electronic money transactions, the equivalent of 19% of the national electronic money transactions," he said. To further extend the benefits of the system, Aino gains the trust of investors such as Frontier Capital, IndoGen Ventures, Semeru Venturra Indonesia, and PT Saga Mas. With the motto “Delivering New Hope”, Aino’s solutions are ready to embody the vision of city leader to welcome the advanced, transparent, cashless, and accurate transaction in the urban community. Aino Payment Platform is ready to establish strategic cooperation with publishers of electronic money, service providers, retailers, and users of electronic money in general to realize Less Cash City system. With a national product, Aino seeks to contribute to the people of Indonesia in particular. (UGM / adelily) Originally published by marwati ugm.ac.id

August 14 2018

Sandiaga Kaji Konsep Car Sharing

Guna mengentaskan kemacetan di Ibu Kota, Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiga Salahuddin Uno menerima masukan dari dari pihak Hip Car, perusahaan car sharing pertama di Indonesia. Sebab, Sandi menilai konsep car sharing bisa bisa menurunkan volume kendaraan di jalan raya. "Baru saja saya diberi masukan tentang car sharing economy, dan Hip Car ini adalah perusahaan car sharing pertama di Indonesia. Riset menunjukkan bahwa ternyata car sharing economy ini menurunkan jumlah kendaraan secara signifikan di jalan-jalan dan oleh karena itu menurunkan juga kemacetan", ujar Sandiaga, Selasa (16/5/2017). Sekedar diketahui konsep car sharing yang dimaksud adalah berbagi penggunaan mobil dengan pemilik yang tidak terlalu sering memakai mobilnya menggunakan aplikasi. Selain itu, konsep tersebut juga bisa membantu peningkatan dari penggunaan transportasi massal umum yang sedang dibangun di Jakarta. "Saya mau nyoba Hip Car. Dari presentasinya, menunjukkan bahwa masih tahap awal di Jakarta, tapi potensinya sangat besar", terangnya. Namun, Sandi belum bisa memastikan kapan hal tersebut akan diterapkan. "Tapi menurut saya, apapun yang dilakukan masyarakat, dunia usaha, civil society, untuk menurunkan jumlah kemacetan di Jakarta harus dibantu", ujarnya. Karena itu, pasangan dari Anies Rasyid Baswedan ini akan meminta pada tim sinkronisasi untuk mengkaji lebih dalam mengenai konsep tersebut. "Nanti ada pokja transportasi di tim sinkronisasi yang akan melototin ini. Saya enggak expert terus terang, saya akan serahkan kepada mereka. Apakah ini salah satu yang bisa mulai dikaji supaya ke depannya kami tidak ketinggalan kereta", kata Sandi. "Di negara-negara maju, kota metropolis dunia, sudah dilihat bagaimana aplikasi, integrasi layanan transportasi berbasis digital ini dengan transportasi umum. Saya lihat, di stasiun-stasiun kereta luar negeri ada ya mobil-mobil seperti hip car ini diparkir", tandasnya. Originally published by Achmad Fardiansyah  in news.okezone.com

See More