Berburu Apartemen dengan Pengalaman Virtual Reality

Jakarta, CNN Indonesia — Virtual reality akan menjadi masa depan teknologi. Hal ini digadang-gadang oleh banyak perusahaan teknoogi, tak terkecuali Facebook dan Google. Berbagai perusahaan manufaktur PC pun tengah mencoba menambang pendapatan baru di sektor ini dengan menghadirkan perangkat VR resolusi tinggi untuk menunjang pengalaman gaming yang lebih baik. 

Tak cuma perangkat konsumsi VR yang kian marak. Kini kamera-kamera yang bisa merekam situasi dalam format 360 derajat juga kian marak. 

Melihat tren ini, salah satu perusahaan rintisan mencoba menawarkan layanan pencarian tempat di Jakarta menggunakan teknologi tersebut. Adalah Jendela360 yang memberikan pengalaman sudut pandang 360 derajat saat pengguna mencari apartemen di Jakarta.

Foto tak representatif

Berangkat dari pengalamat sulit mencari apartemen, Ade Indra dan rekannya Kiki Guzali, memutuskan untuk membangun sebuah situs agen penyewaan apartemen Jendela360

Tak seperti agen penyewaan atau marketplace apartemen lainnya, situs ini memanfaatkan kamera 360 dan headset virtual reality untuk menyampaikan penawaran.

Lihat juga:Meningkatkan Motivasi Belajar dengan Virtual Reality

Hal ini dilakukan berdasarkan pengalaman mereka mencari apartemen. Saat itu, mereka mengeluhkan soal foto apartemen yang tidak representatif. Tak representatif lantaran foto yang disajikan tak bisa memberikan gambaran utuh terkait apartemen yang akan disewa. 

Dengan merekam properti yang akan disewa menggunakan kamera 360, diharapkan penyewa bisa mendapat sudut pandang dan informasi utuh. 

“Kenapa namanya jendela? Ketika kita melihat melalui jendela, kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, kalau jalan ya jalan yang lebih luas, jadi nggak separuh-separuh… banyak orang yang nggak jadi menyewa apartemen karena kesulitan mencari informasi,” terang Kiki saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kantornya di bilangan Jakarta Barat.

Selain tak mendapat sudut pandang yang utuh, kerumitan lain adalam penyewa setidaknya harus menghubungi 5-10 agen. “Ada yang telat, lama, dan tidak profesional,” tambah Kiki.

Situs ini juga memberikan informasi yang cukup lengkap bagi pemburu apartemen. Calon penyewa bisa mencari berdasarkan lokasi, jumlah kamar dan budget yang dialokasikan. Jendela360 juga memberikan penawaran berdasarkan nama apartemen, juga apakah apartemen sudah dilengkapi perabotan atau masih kosongan.

Kiki membeberkan bahwa apartemen yang paling banyak diminati berada di kelas menengah ke bawah dengan harga di kisaran Rp50 juta. Ini sesuai dengan target konsumen yang berada di usia 25-40 tahun dan melek teknologi.

Omset miliaran 

Meski baru berdiri 11 bulan lalu, Jendela360 sudah tak lagi “bakar duit” alias sudah bisa menarik keuntungan dari bisnis modelnya. Jendela360 mengaku telah beromset 2-3 miliar. Perusahaan ini mengaku telah menyewakan sekitar 300 unit, ini sekitar 40 persen dari 2.000 listing unit yang tersedia di situsnya.

Startup
 yang memiliki pengunjung rata-rata 100 ribu per bulan ini memonetisasi bisnisnya dengan menarik 5 persen dari setiap transaksi unit yang tersewa melalui channel-nya.

“Kalau nggak laku dari kami, mereka tidak perlu membayar apapun termasuk biaya foto, biaya pasang di website properti berbayar dan pemasangan semuanya gratis…ya jadi itu added value kami sebagai startup,” jelasnya.

Jendela360 juga telah bekerjasama dengan delapan bank swasta untuk memungkinkan pembayaran kredit sehingga konsumen bisa membayar uang sewa bulanan. Ke depan, mereka akan bekerjasama dengan layanan fintech

“Kalau sekarang belum ada yang berani karena [fintech] fokus ke UKM dan limitnya kecil, limitnya cuma Rp3-20 juta, padahal rata-rata transaksi kami sekitar Rp50 juta,” paparnya kemudian menjelaskan kerjasama ini akan segera hadir di masa depan karena kebutuhannya yang tinggi.

Selain itu, Jendela360 juga mengaku sedang mencari investor untuk memperbesar bisnisnya. Mereka mengidamkan partner strategis yang bisa menambah nilai perusahaan.

“Cari investasi iya, kita fokus benerin perbanyak transaksi dan sistem yang bener. Jadi ketika ada investor yang cocok kita siap untuk scale up,” pungkasinya.